Schemetterling

 PART-1

 

    Suara nafas saling bersahut – sahutan, deru langkah kaki saling berlomba seakan tak mau kalah, suara teriakan yang sarat akan rasa panik berhembus di udara. Membelah malam sunyi yang tenteram dan hening. Deru langkah kaki yang terdiri dari beberapa orang itu seakan tak mau kalah mengejar langkah seorang gadis kecil yang terus berlari tak kenal lelah.

    " Nona! Nona! Kembalilah bersama kami! Dunia luar sangat berbahaya, nona!" Para ksatria seakan tak kenal lelah menyerukan kata itu berulang – ulang, berusaha membujuk nona muda mereka agar tak meninggalkan kediaman dengan seperti ini.

    Gadis kecil yang dipanggil sedari tadi menoleh kebelakang, berusaha mengukur jaraknya dengan para ksatria berbaju zirah besi tersebut.

    " Aku tidak mau! Kalian pasti akan mengurungku di kediaman lagi! Aku sudah muak dengan kediaman itu!" Air mata Clara luruh. Dia tak ingin dikurung lagi, dia ingin mencari orang yang tega mengurung anaknya dalam sebuah sangkar emas—orang tuanya.

    Berbelok ke arah kanan, lalu berlari menuju ruang rahasia yang selama ini telah diselidikinya secara diam – diam. Begitu masuk, Clara menutup pintu ruang rahasia sambil bersandar pada pintu dengan napas tersengal – sengal. Di pintu, dia mendengar suara napas memburu dan langkah kaki yang saing bersahutan milik para ksatria. " Mereka sudah pergi, kan?" Clara bertanya pada dirinya sendiri. Sambil menempelkan telinga lagi pada pintu. Saat tak mendengar lagi suara langkah kaki para prajurit, perlahan Clara bangkit sambil membersihkan pakaian yang terkena debu di lantai.

    Perlahan, mata beriris coklat madu itu memandang kedepan—ke arah lorong yang sunyi dan gelap. Meraih korek api di tas kainnya dan menyalakannya, Clara mengarahkan api kecil yang berasal dari korek api tersebut ke arah obor yang juga sudah disediakan di dalam tas kainnya. Perlahan namun pasti, Clara mulai melangkah maju ke depan sambil menatap sekeliling dinding yang di hiasi dan di ukir dengan ukiran entah-apa-wujudnya itu.

    Entah sudah berapa lama ia berjalan. Yang jelas, otot – otot yang ada di kakinya seperti saling tarik – menarik, alias kejang. Saat telinganya mendengar sayup – sayup suara air mengalir, Clara mempercepat laju jalnnya. Ia benar – benar lelah. Sungguh.

    Perlahan, tanah yang di pijaki Clara mulai terasa lembab. Seakan – akan, tepat di ujung tanah ini adalah sebuah sungai besar yang mengalir dengan deras. Sadar dengan hal itu, Clara makin mempercepat jalannya. Semakin cepat ia berlari, semakin banyak pula dia menemui tanaman dan rumput liar.

    Tiba di ujung, Clara mendapati sungai dangkal yang tidak terlalu besar. Air nya jernih, seakan terbuat dari kaca paling jernih yang pernah ada. Di sekeliling sungai terdapat tanaman obat langka yang ada di bukunya. Juga, ada beberapa buah - buahan yang bisa dimakan untuk menganjal perut. Mengambil beberapa buah untuk dimakan dan beberapa untuk dimasukkan ke dalam tas kainnya, Clara melihat ke sekeliling untuk mencari tempat beristirahat.

    Ia lelah setelah beberapa jam menyusuri lorong, belum lagi dia tak pernah berlatih dan hanya berdiam diri di mansion miliknya dan menikmati kekayaan yang tak ada habisnya dengan penuh kebosanan.

    Saat melihat sekeliing, Clara di kejutkan dengan melihat gumpalan kecil asap. Memikirkan bahwa ada orang disana, dia mulai berjalan dengan cepat ke sana.

    Kepalanya pusing dan mengalami kelelahan, dia merasa akan pingsan sekarang juga jika tak ingat bahwa dia belum menemukan seseorang untuk membantunya. saat sampai, Clara melihat anak lelaki yang seusia dengnnya dan rombongan kecil bersama anak itu.

    Baru akan melangkah, Clara merasakan dunia berputar dan kehilangan gravitasinya.

Clara pingsan. [.]

 

Komentar